Tidak bisa dipungkiri bahwa belajar dari internet dianalogikan seperti pisau bermata dua. Terutama bagi generasi Z yang sangat mengenal teknologi. Sebagian orang menganggap generasi Z sebagai generasi yang tidak bisa dilepaskan dari gadget dan teknologi canggih yang terus berkembang pesat di awal abad ke-21 ini.

Di dalam seminar hari Sabtu, 9 September 2017, bertempat di sekolah St. John’s Catholic School BSD, Bunda Lucy dan Yoris Sebastian menjelaskan lebih lanjut mengenai generasi Z dan cara mengarahkan generasi ini menjadi sebuah generasi yang kreatif dan tangguh.

Bunda Lucy memaparkan betapa kesibukan orang tua seringkali menyebabkan mereka terlalu cepat memberikan gadget sebagai kompensasi waktu mereka bagi anak. Akibatnya banyak kasus yang terjadi sebagai akibat negatif dari perasaan kesepian ataupun stress pada anak.

Anak-anak generasi ini juga sangat banyak terpapar pada hal-hal yang instan. Selain makanan instan, kecepatan teknologi informasi juga menghadirkan bagi mereka berbagai informasi instan via internet.

Generasi Z adalah generasi yang dilahirkan mulai dari tahun 2001. Berbeda dari generasi Y yang dibesarkan di era digital, gen Z dilahirkan di era digital. “Gen Z seharusnya menjadi generasi yang cepat (fast generation), bukan generasi instan,” tegas Yoris. Dalam arti, gen Z bisa belajar sesuatu yang baru dengan cepat, bukan hanya mendapatkan sesuatu tanpa melalui prosesnya. Dalam hal ini orangtua perlu membantu mereka mengenal proses dan belajar melalui proses itu.

Anak-anak gen Z belajar dengan cepat seiring perkembangan zaman. Mereka mampu berkarya hanya karena belajar dari internet. Selain itu, generasi Z di Indonesia merupakan generasi reformasi, yang melahirkan keterbukaan informasi. Seringkali perubahan gaya komunikasi antar generasi ini mengakibatkan timbulnya masalah yang berhubungan dengan etika komunikasi.

Walau generasi Z kelihatannya sangat dekat dengan teknologi dan gadget, di lubuk hati mereka, mereka masih suka hal-hal yang non-gadget. Ini yang membuat orang tua memiliki tantangan baru, yaitu mencari cara-cara baru dalam mendidik anak-anaknya. Ada yang mengatakan bahwa usia terbaik untuk pemberian gadget pada anak adalah usia 10-14 tahun, sambil diberi pengertian agar mampu menggunakannya secara maksimal dan berdaya guna.

Bisa dibilang gen Z sudah mengetahui passion mereka, namun yang menjadi pertanyaan adalah grit. Grit adalah ketangguhan dan minat yang dipelihara untuk waktu yang lama. “Ketangguhan berarti menjalani hidup seperti maraton, bukan sprint,” jelas Yoris. Dalam hal ini Yoris berpesan, bahwa orang tua pada dasarnya hanya bisa menginspirasi, karena hanya anak itu sendirilah yang bisa memotivasi dirinya. Tetapi pengarahan dan bimbingan orang tua sejak usia dini merupakan bekal anak di masa depannya. “We create our children,” jelas Yoris. Sesibuk apapun orang tua, perlu menyiapkan waktu untuk membentuk karakter anak. Mengarahkan anak untuk berpikir cerdas, dan melihat konsekuensi baik buruk dari suatu tindakan akan lebih baik dari larangan. Dengan cara itu, kretivitas anak akan tetap terjaga.

Mendidik generasi Z yang kreatif dan tangguh tidak akan susah selama orang tua mau menyediakan waktunya bagi anak dan bersedia senantiasa belajar menyelaraskan komunikasi mereka dengan gen Z yang lahir di era digital yang serba cepat ini.

Penulis: Dyah Setyaningsih, Bryan Alexander (SHS)

Fotografer: Niki, Elvin